Perlukah Pendidikan Anak Persiapan Baligh

Sering kita jumpai keluhan orang tua tentang anaknya yang sudah menginjak akil balig, ternyata belum bisa menjalankan kewajibannya secara individu di depan Tuhannya. Ini orang tua yang prihatin, namun tidak banyak orang tua yang tidak merasa bahwa anaknya sudah pada usia akil baligh, yang semua tanggung jawab secara individu sudah ditanggungnya.

Coba kita lihat pada phase usia anak, 6 tahun pertama anak pada usia “raja”. Yaitu anak usia 0 – 6 tahun, anak diasuh dengan penuh kasih sayang, semua kebutuhannya dicukupi dengan berlebih oleh orang tua. Orang tua rela melayani sang anak, demi kebahagiaan anaknya. Menginjak 6 tahun kedua, yakni 7 – 12 tahun, anak menginjak masa “tawanan”, artinya tertawan pada sebuah sistem yang membiasakan dan memahamkan anak akan perbedaan yang harus dipahaminya. Yaitu perbedaan antara baik dan buruk, perbedaan antara benar dan salah, serta perbedaan antara halal dan haram. Ketika pada usia ini anak belum bisa membedakan hal ini, maka orang tua kan menjadi repot tentunya, dan akan berimbas pada kehidupan selanjutnya. 6 tahun ketiga, yaitu antara 13 sampai seterusnya , anak sudah menjadi dewasa. Anak sudah seperti teman dengan orang tua, karena sudah sama sama dewasa, sudah mempunyai tanggung jawab sendiri sendiri dihadapan Tuhannya. Orang tua hanya memotivasi kepada sang anak untuk kemajuan kehidupannya.
Orang tua mempunyai peran yang besar terhadap persiapan anaknya menuju akil baligh. Pertanggung jawaban orang tua sangat menentukan akan naknya tersebut. Bagai mana dengan anaknya, apakah dia sudah paham ketika akil baligh tau tidak, ini orang tua dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Tuhan. Semoga kita tergolong orang tua yang peduli terhadap ini.
Lantas bagaimana persiapan orang tua?
Orang tua bertanggung jawab mutlak mendidik anaknya. Peran pendidikan sangat menentukan bagaimana anak ini berkembang, dan orang tua yang berkewajiban untuk memilihkannya, karena saat menjelang akil baligh orang tua yang masih bertanggung jawab. Sehingga memilihkan pendidikan kepada anaknya adalah mutlak bagi orang tua.
Ketika melihat anak yang lebih hafal rumus rumus ketimbang hafal bacaan sholat, ketika anak lebih bisa mengerjakan soal soal yang rumit dari pada mengerjakan solat, dan anak lebih bisa untuk membaca apapun, ketimbang membaca Al-Qur’an, Siapa yang bertanggung jawab?.
Ayah sudah sibuk dengan pekerjaannya dikantor, sehingga tidak sempat untuk mengajari ngaji, mengajari sholat apalagi mengajari cara ber toharoh dll. Sang ibu juga sibuk hanya mengajari PR dari sekolah, sehingga tidak sempat mengajari Akidah/ tauhid dan akhlaq, bahkan sibuk juga meonton sinetron yang kiranya bisa sebagai contoh akhlak untuk anaknya. Maka yang terjadi seperti kebanyakan masyarakat kita sekarang ini.
Pendidikan yang mengedepankan tauhid, keimanan kepada Alloh, pendidikan yang mempersiapkan anak menjadi paham akan kewajibannya, tentang ibadah kepada Alloh, dan pendidikan tentang Akhlaqul karimah, sopan santun kepada orang tua dan masyarakat, jelas sangat dibutuhkan. Orang tua hendaknya bijak dalam memilih pendidikan di usia ini. Di usia SD/ Sekolah dasar, kebutuhan anak akap persiapan menjadi baligh sangat dia butuhkan. Jangan disia siakan, anak hany diisi oleh prestasi duniawi saja saat ini, sehingga ketika anak sudah akil baligh, anak ini terlambat mengerti kan hal halal dan haram, maka akibatnya orang tua lah yang menaggung kerugian selama lamanya, naudzubillah.
Memilih Sekolah Dasar, yang mengedepankan Qur’ani, tauhid, ibadah dan akhlaq, sangatlah penting karena ini yang mendasari anak anak mengerti akan kehidupannya yang sebenarnya. Dan pada Usia inilah, usia yang pas untuk belajar itu. Ini merupakan bekal yang sangat penting, bagi anak dan orang tuanya. Semoga orang tua sekarang bisa memilihkan pendidikan anaknya dengan tepat, dengan bijak untuk kehidupannya, sehingga bisa selamat dunia sampai akherat…. Aamiin.