“Guru Oemar Bakri” masih adakah?

“Guru Oemar Bakri” masih adakah?

“Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi berkata bapak Umar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali

Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

Laju sepeda kumbang dijalan berlubang
Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang………”

Suara merdu terdengan dari tape yang mengiringiku menuju sebuah kampus, tepatnya sebelum jam 7 pada tanggal 10 Nopember 2014. Upacara memperingati hari Pahlawan, sehingga harus rela berdesakdesakan diantara kendaraan yang melaju. Suasana di jalan dengan budaya yang saling serobot dan saling nylonong. apa ya ini diajarkan oleh gurunya ya ya. mereka semuanya ingin nomor satu tanpa mengalah dan tanpa peduli jalan macet, yang penting bisa duluan. bahkan sudah tahu harus bergantian tetap aja nylonong dan berakibat macetnya semuanya. Sudah hilang rasa untuk memikirkan supaya lancar semuanya. budaya ingin cepat sed=ndirian, ingin duluan sendirian dan tidak peduli pada sesama. Salah siapa…….., kalau yang demikian guru lah gurunya dulu siapa…. yah kalau yang demikian murid lah gurunya siapa…..pusing ni mikirnya….(berat memang beban guru….)

 

Teringat sosok pahlawan tanpa tanda jasa, “berjuang” ya berjuang.

Guru adalah perjuangan, namun coba kita lihat sekarang ini, masih adakah rasa perjuangan yang terlihat di depan kita.

 

Dulu yang namanya Guru sangat sangat terhormat, demikian pula sekarang. Guru yang benar benar tulus, memberikan ilmu, dan memberi contoh tauladan untuk beramal sholeh. Karena pada hakekatnya ketika guru memberikan ilmu dengan ikhlas, niat yang benar tanpa mengharap apapun dalam bentuk duniawai, maka tuhan akan menjamainnya.
“Umar Bakri Umar Bakri
Pegawai negeri
Umar Bakri Umar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Susah sekarang ini untuk jadi guru yang jujur. “Mau bagaimana lagi” kata kebanyakan guru yang tak bisa mengelak dari sistem. “kalau ndak begini ya ndak jalan” kata sebagian guru lain lagi.

Kalau sang guru sudah begitu, bagaimana dengan murid, apa yang akan diberikan pada sang murid….

 

Sekolah tempat menimba ilmu, Sang Guru tempat mengabdikan diri untuk beramal sholeh, rasanya sudah mulai bergeser, entah mengapa……. entah…..

Risih rasanya ketika sering terdengar lirih tentang gaji, tentang tunjangan, tentang honor dan lain sebagainya, namun terlintas bagaimana murid kita supaya taat pada Tuhan yang maha Esa. Sudahkan guru memberi contoh dan mengajari untuk beramal sholeh, menanamkan keimanan, ketulusan dan ketaatan pada Tuhan, apalagi yang itu, sudahkah ada guru yang membimbing untuk santun, santun oleh siapapun bukan karena apapun….

 

Guru, pahlawan tanpa tanda jasa…….

Guru, pahlawwan…..

Mulai hilang dari pendengaran

Mulai lirih tak terdengar

Mana jiwa pengorbanannya

Mana jiwa berbatinya

Mana jiwa kepahlawanannya

 

Semoga kita jadi guru yang yang benar benar guru

Yang bisa digugu lan ditiru

 

Jadikan 10 nopember 2014 ini sebagai titik perjuangan

Guru yang baik untuk keluarga kita,

Guru yang baik untuk anak anak kita

Guru yang baik untuk lingkungan kita

Guru yang baik untu masyarakat kita

Mulai dari kita

Mulai dari sekarang

 

Aamiin